Kuliah Tamu Terapan Kecerdasan Artifisial di Bidang Pertahanan dan Keamanan bersama Praktisi pada Mata Kuliah Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial Unesa
SURABAYA. Perkembangan teknologi
kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/ AI) telah membawa
perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan termasuk bidang pertahanan dan
keamanan. Pemanfaatan AI dalam sistem pengawasan, analisis data intelijen,
pengambilan keputusan, hingga keamanan siber menunjukkan bahwa teknologi ini
memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan suatu negara. Oleh karena
itu, mahasiswa perlu mendapatkan wawasan yang tidak hanya bersifat teoritis,
tetapi juga praktis dan kontekstual dari para praktisi yang berpengalaman di
bidang tersebut.
Sebagai upaya memperluas wawasan
mahasiswa mengenai implementasi AI di dunia nyata, Program Studi S-1 Kecerdasan
Artifisial FMIPA UNESA menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu Praktisi pada mata
kuliah Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial (KDKA) untuk mahasiswa angkatan 2025.
Kegiatan ini menghadirkan praktisi internasional, yaitu Marsekal Pertama
(Marsma) TNI AU Dr. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, M.T., IPU, ASEAN Eng. Beliau
merupakan akademisi dan praktisi yang memiliki keahlian dalam bidang kecerdasan
artifisial, keamanan siber, dan sistem pertahanan berbasis teknologi cerdas.
Saat ini menjabat sebagai direktur cognitive artificial intelligence
research group di AI and cybersecurity expert centre of trade excellence, Singapore.
Kuliah praktisi ini mengangkat tema “Terapan Kecerdasan Artifisial di Bidang Pertahanan dan Keamanan”. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami perkembangan terbaru teknologi AI, tantangan implementasinya, serta peluang pengembangan riset dan karier di bidang kecerdasan artifisial, khususnya yang berkaitan dengan sistem pertahanan, keamanan, dan keamanan siber. Kuliah tamu sesi ke dua yang diselenggarakan secara hybrid, yaitu luring di Auditorium FMIPA Unesa dan dapat disaksikan secara daring melalui zoom dan youtube Prodi S-1 Kecerdasan Artifisial pada Rabu, 6 Mei 2026. Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi S1 Kecerdasan Artifisial Unesa, Dr. Elly Matul Imah, M.Kom sekaligus pengampu yang mengadakan kuliah tamu KDKA. Selain 90 mahasiswa S-1 Kecerdasan Artifisial, kuliah tamu ini juga dihadiri oleh mahasiswa S-2 serta dosen dan praktisi dari seluruh Indonesia. Ingin tahu hal yang dibahas dan keseruan dalam kuliah tamu tersebut? Simak catatan berikut ini.
Kecerdasan Artifisial pada
Militer Dunia
Kecerdasan Artifisial (KA) kini
bukan lagi sekedar elemen dalam film fiksi ilmiah melainkan realitas berisiko
tinggi yang tengah mengubah citra dunia militer dan pertahanan negara secara
total. Dalam sesi pemaparan materi, Mersma Dr. Arwin Sumari membedah bagaimana
algoritma rumit kini mampu memproses jutaan data dalam sekejap untuk menentukan
target di medan perang. Sejarah AI militer sebenarnya telah dimulai sejak
Perang Dunia Kedua melalui mesin logika Alan Turing untuk memecahkan sandi
Enigma. Namun, lonjakan paling signifikan terjadi sejak tahun 2022, menandai
dimulainya era peperangan disruptif modern. Saat ini AI telah mengambil peran
krusial dalam berbagai konflik global. Dalam konflik Rusia-Ukraina misalnya,
terdapat perbedaan pendekatan yang mencolok yaitu Rusia memadukan serangan
fisik dan siber dengan bantuan kawanan drone, sementara Ukraina
memanfaatkan platform AI seperti Palantir untuk penggabungan data target serta
Clearview untuk pengenalan wajah prajurit secara real-time. Selain itu,
negara lain seperti India menggunakan AI "Anuman" untuk prediksi
cuaca bagi pasukan payung dan Iran bahkan telah menerapkan peperangan kognitif
yang memanipulasi algoritma media sosial untuk menyerang psikologis lawan.
Memasuki era senjata otonom
penuh, peran manusia diprediksi akan bergeser dari operator menjadi pengatur
strategi di balik layar. Munculnya Unmanned Ground Vehicle (UGV) dan Swarm
Drones (kawanan drone) menjadi bukti nyata bahwa kawanan drone ini mampu
berkomunikasi antar mesin dan secara otomatis mengatur ulang formasi jika ada
unit yang hancur tanpa perlu instruksi manusia. Ketangguhan AI juga teruji
dalam simulasi pertempuran udara, di mana AI berhasil mengalahkan pilot
profesional dengan skor telak 5-0. Hal ini terjadi karena mesin tidak memiliki
batasan fisik seperti rasa lelah atau risiko kehilangan kesadaran (blackout)
saat melakukan manuver ekstrem pada kecepatan tinggi.
Tantangan Inovasi AI untuk
Militer Indonesia
Tantangan besar dihadapi
Indonesia yang saat ini diprediksi memiliki kesenjangan teknologi AI
pertahanan dibandingkan negara maju.
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari 70% laut dan 30% darat, ruang
udara Indonesia menjadi 100% terekspos dan membutuhkan pengawasan nonstop 24
jam. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, inovasi lokal bertajuk Knowledge
Growing System (KGS) hadir sebagai solusi. Sistem tersebut bekerja dengan
siklus SIDA (Sense, Inference, Decision, Action) yang mampu mengekstrak
data mentah radar militer. Teknologi ini memungkinkan identifikasi objek
misterius dan pemberian rekomendasi tindakan pencegatan kepada komandan
lapangan hanya dalam hitungan detik. Tantangan Celah Teknologi 20 Tahun ini
juga menjadi pengingat keras bagi para mahasiswa mengenai posisi teknologi
pertahanan Indonesia. Dr. Arwin
mengungkapkan adanya celah (gap) teknologi yang cukup signifikan.
"Seberapa besar gap
teknologi pertahanan Indonesia dengan yang sudah berkembang saat ini? Saya
sampaikan 20 tahun. Kita harus kembali ke semangat sebelum tahun 65, bagaimana
negara ini menguasai banyak teknologi maju. Mahasiswa disiapkan untuk memperkecil
gap ini melalui quantum leap." pesannya kepada para peserta kuliah
tamu.
Tantangan Etis dibalik Inovasi
AI
Tanggung Jawab Etis di Balik Kode
Meskipun teknologi kian canggih, muncul pertanyaan etis mengenai batasan peran
mesin. Terdapat dua konsep utama, yaitu Human in the Loop di mana
manusia tetap memegang kendali keputusan akhir dan Human on the Loop di
mana mesin membuat keputusan mandiri sementara manusia hanya memantau. Dr.
Arwin Sumari menekankan bahwa AI (Artificial Intelligence) hadir untuk
mengurangi beban kognitif manusia terutama dalam pekerjaan yang bersifat
repetitif dan pengambilan keputusan kompleks. Beliau memberikan jawaban taktis
saat menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai alasan manusia membutuhkan AI.
"Bagaimana cara mematikan AI? Cabut saja listriknya. Selesai. Jadi AI itu untuk membantu, bukan menggantikan siapapun," tegas Dr. Arwin sembari menjelaskan bahwa AI sangat unggul dalam melakukan komputasi tingkat tinggi tanpa mengenal lelah dibanding otak manusia.