Merajut Kolaborasi Industri dan Akademik untuk Talenta Kecerdasan Artifisial yang Adaptif dan Kompeten
Sesi Program Studi S1 Kecerdasan Artifisial pada hari ketiga PKKMB Origamipa 2026 berlangsung dalam suasana yang hangat, interaktif, dan penuh antusiasme. Pada hari itu mahasiswa baru mendapatkan insight dan motivasi dari Ibu Ika Sri Cahya Section Head, Cybersecurity Information & Operations, Corporate Information System & Technology (CIST), PT. Astra Internasional Tbk (Head Office), dan Bapak Giri Wiriapradja IT Consultant EDTS (Salim group). Kehadiran praktisi industri dari Astra Internasional dan EDTS (Salim Group) memberikan warna tersendiri, tidak hanya bagi mahasiswa baru S1 Kecerdasan Artifisial angkatan 2026, tetapi juga bagi mahasiswa angkatan 2025 yang turut berperan sebagai pendamping dalam kegiatan PKKMB. Forum diskusi berkembang sangat dinamis. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai perkembangan kecerdasan artifisial di dunia industri, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menyampaikan berbagai pertanyaan yang dekat dengan tantangan dan masa depan karier mereka. Beberapa topik yang mengemuka antara lain perkembangan cybersecurity di era AI, penerapan AI yang saat ini digunakan oleh perusahaan di Indonesia, kompetensi dan keterampilan yang perlu dikembangkan mahasiswa, hingga bagaimana mengenali dan mengembangkan potensi diri sejak berada di bangku kuliah. Salah satu hal yang menarik perhatian mahasiswa adalah peluang pengembangan karier dan kolaborasi antara Astra, EDTS, dan Universitas Negeri Surabaya, khususnya Program Studi S1 Kecerdasan Artifisial. Para praktisi menyampaikan bahwa peluang kolaborasi sangat terbuka, terutama dalam bentuk program magang. Mahasiswa yang memiliki minat untuk mengikuti magang di unit atau bagian tertentu yang relevan dengan bidang narasumber dapat menyampaikan minat tersebut melalui Koordinator Program Studi. Selanjutnya, Koordinator Program Studi dapat berkoordinasi langsung dengan praktisi terkait untuk melihat kemungkinan fasilitasi dan komunikasi dengan HRD pada unit yang bersangkutan.
Pada sesi siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan telaah kurikulum bersama para praktisi. Diskusi tidak hanya berfokus pada mata kuliah, tetapi lebih jauh membahas talenta seperti apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh industri. Para praktisi memberikan apresiasi terhadap struktur dan spesifikasi kurikulum S1 Kecerdasan Artifisial yang ternyata cukup dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Bahkan, terdapat pengakuan bahwa sebelumnya mereka belum mengetahui secara mendalam bahwa terdapat program studi AI dengan kurikulum yang secara khusus dirancang untuk menghasilkan talenta dengan kompetensi tersebut. Dari perspektif industri, salah satu tantangan dalam proses rekrutmen adalah menemukan lulusan yang memiliki keseimbangan antara kemampuan teknis dan pemahaman keilmuan. Tidak jarang ditemukan kandidat yang memiliki kemampuan pemrograman tetapi belum cukup kuat dalam aspek keilmuan AI, atau sebaliknya memahami konsep tetapi belum memiliki kemampuan implementasi yang memadai. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat perusahaan perlu memberikan pelatihan kembali kepada pegawai baru. Diskusi ini memberikan insight penting bahwa perguruan tinggi tidak seharusnya berdiri sebagai menara gading ilmu pengetahuan, melainkan perlu terus membangun jembatan dengan dunia industri agar pengetahuan yang diberikan kepada mahasiswa dapat diterjemahkan menjadi kompetensi yang relevan dan dibutuhkan.
Salah satu insight penting lainnya adalah mengenai standar/ISO di bidang AI yang mulai berkembang dan salah satunya baru dirilis pada 2025. Saat ini banyak perusahaan mulai mengejar pemenuhan standar tersebut. Apabila dapat diakomodasi dalam pembelajaran, hal ini akan menjadi nilai tambah bagi lulusan AI agar tidak hanya mampu membangun produk AI, tetapi juga memahami standardisasi produk AI, aturan dan tata kelolanya, serta audit sistem berbasis kecerdasan artifisial. Berbagai aspek tersebut sebenarnya telah diakomodasi dalam kurikulum S1 Kecerdasan Artifisial, antara lain melalui Etika Profesi Kecerdasan Artifisial sebagai mata kuliah wajib, MLOps sebagai mata kuliah wajib, AIOps dan Manajemen Kecerdasan Artifisial sebagai mata kuliah pilihan, serta Manajemen Risiko yang dapat diperoleh melalui skema konversi magang. Sementara itu, aspek audit sistem berbasis kecerdasan artifisial juga sedang dipertimbangkan untuk dimunculkan dalam mata kuliah yang berkaitan dengan konversi magang. Praktisi juga memberikan insight penting: di mana seluruh kompetensi dari berbagai mata kuliah tersebut dirangkai sehingga mahasiswa mampu menghasilkan sesuatu dari nol hingga menjadi produk, dan bukan sekadar skripsi? Di S1 Kecerdasan Artifisial, hal tersebut diwujudkan melalui Capstone Project, berupa proyek pengembangan produk sistem berbasis kecerdasan artifisial. Outputnya memang diarahkan menjadi produk, karena mahasiswa dibekali proses membangun solusi nyata mulai dari user requirement, define, design, pengembangan model AI berbasis aturan maupun pemodelan data, UI/UX, hingga packaging dan deployment*.
Sebagai tindak lanjut, para praktisi juga menyatakan kesediaan memberikan kuliah praktisi kepada mahasiswa angkatan 2025 selama beberapa pertemuan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi jembatan bagi praktisi untuk mengenal dan melihat potensi mahasiswa S1 Kecerdasan Artifisial yang berpeluang untuk dijaring dalam program magang di tempat mereka. Selain itu, para praktisi juga akan berupaya mengakomodasi permintaan kerja sama dalam bentuk MoA dan IA dengan berkoordinasi lebih lanjut bersama pihak HRD. Pertemuan ini menjadi momentum penting bahwa link and match bukan sekadar slogan, tetapi proses mempertemukan kebutuhan industri, pembelajaran akademik, dan potensi mahasiswa secara nyata—agar lulusan S1 Kecerdasan Artifisial tidak hanya mampu memahami teknologi AI, tetapi juga siap mengembangkan dan menerapkannya secara profesional, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan industri.
#Explore AI-Understand Today-Think Beyond-Creat Impact and Shape The Future!