Dari Korteks Kucing ke Deep Learning Convolutional Neural Network: Eksperimen yang Mengubah Dunia Kecerdasan Artifisial
Tahukah kalian kalau kucing yang manis dan imut itu telah menjadi inspirasi yang memberikan perubahan signifikan pada bidang Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/ AI) dan Visi Komputer (Computer Vision). Ilmu Biologi dan neurosains sangat berperan pada kemajuan dunia AI. Neurosains adalah ilmu untuk memahami otak bekerja. Sampai saat ini, memahami cara otak manusia bekerja merupakan riset yang panjang dalam sejarah ilmu dan masih terus dicari bagaimana manusia berpikir dan otak bekerja. Unesa sebagai LPTK dan banyaknya pakar pendidikan terutama saat ini sudah memiliki prodi Kecerdasan Artifisial, dan Fakultas Kedokteran, tentunya pertemuan tiga unsur ini akan memberikan nuansa baru dalam bidang kependidikan jika disinergikan dan dioptimalkan.
Gambar 1. Dalam eksperimen neuroscience klasik, Hubel dan
Wiesel menemukan neuron korteks visual kucing (kanan) yang menembak dengan kuat
dan selektif untuk sebuah batang cahaya (kiri) ketika berada pada posisi dan
orientasi tertentu
Pada tahun 1959, dalam eksperimen
klasik, David Hubel dan Torsten Wiesel mempelajari otak kucing
dengan menunjukkan gambar yang berbeda di layar sambil merekam tembakan neural
di korteks visual utama kucing tersebut, lihat Gambar 1. Eksperimen yang dilakukan
mengungkapkan bagaimana otak memproses informasi visual. Mereka melakukan
eksperimen menggunakan teknik elektrofisiologi untuk mengukur aktivitas
neuron-neuron di otak kucing saat kucing tersebut melihat rangsangan visual,
seperti garis atau pola. Penelitian ini dilakukan dengan memasang elektroda di
otak kucing untuk memantau respons neuron-neuron di korteks visual, yang
merupakan bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk memproses informasi
visual. Di antara berbagai gambar uji, mereka menemukan bahwa neuron-neuron
dalam korteks visual merespons fitur-fitur spesifik dalam gambar,
seperti orientasi garis, tepi, dan bentuk sederhana. Dalam
eksperimen tersebut mereka menemukan ada dua tipe neuron utama dalam korteks
visual:
- Neuron sederhana: Neuron
ini merespons garis atau tepi dengan orientasi tertentu dan dalam lokasi
tertentu dalam lapangan visual.
- Neuron kompleks: Neuron ini merespons rangsangan yang lebih rumit, seperti garis yang bergerak dalam arah tertentu atau bentuk yang lebih kompleks.
Hubel dan Wiesel menunjukkan
bahwa proses pengolahan visual di otak terjadi secara berlapis dan hierarkis.
Artinya, informasi visual yang diterima oleh mata akan diproses dalam beberapa
tahapan yang semakin kompleks, dimulai dengan deteksi fitur sederhana dan
akhirnya mengenali objek yang lebih kompleks.
Konsep Kolom Kortikal
Dalam penelitian mereka, Hubel dan Wiesel menemukan bahwa neuron-neuron di korteks visual terorganisir dalam unit fungsional yang disebut kolom kortikal. Setiap kolom merespons jenis rangsangan tertentu, seperti orientasi garis atau pergerakan objek dengan arah tertentu. Neuron-neuron dalam satu kolom akan bekerja bersama untuk mendeteksi jenis rangsangan tertentu dan berkolaborasi dalam pengolahan visual yang lebih kompleks. Kolom-kolom ini menunjukkan bagaimana otak secara efisien memproses informasi visual dengan mengelompokkan neuron-neuron yang memiliki fungsi serupa dalam satu unit fungsional. Penemuan ini sangat penting karena memberi gambaran tentang cara otak mengorganisir informasi visual dan bagaimana informasi tersebut diproses secara bertahap, dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks.Penelitian Hubel dan Wiesel memberikan wawasan besar tentang cara otak mengatur dan mengolah informasi visual dalam sistem saraf. Mereka menunjukkan bahwa informasi visual diproses dalam unit fungsional yang terorganisir dengan sangat baik di dalam otak, dengan setiap neuron atau kolom kortikal memiliki peran spesifik dalam mendeteksi elemen-elemen visual tertentu. Temuan ini sangat penting karena memperkenalkan gagasan bahwa pemrosesan visual adalah hasil dari interaksi antara berbagai neuron yang terorganisir dalam kolom dan wilayah kortikal tertentu. Penelitian mereka juga membuka jalan bagi studi tentang bagaimana otak mengenali objek, wajah, dan konsep-konsep visual yang lebih kompleks, serta bagaimana gangguan pada struktur atau pemrosesan visual dapat menyebabkan gangguan persepsi visual. Hubel dan Wiesel dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1981 sebagai pengakuan atas kontribusi besar mereka terhadap pemahaman kita tentang sistem visual.
Hubungan Kortikal Kucing dengan Algoritma Deep Learning: Convolutional Neural Network (CNN)
Pengembangan Convolutional Neural Networks (CNN) sebagai salah satu arsitektur utama dalam deep learning sangat dipengaruhi oleh penelitian Hubel dan Wiesel. CNN dirancang untuk meniru cara otak memproses informasi visual melalui lapisan-lapisan konvolusi yang bekerja untuk mendeteksi fitur visual dalam gambar secara bertahap.a. Lapisan
Konvolusi dan Neuron di Korteks Visual
Salah satu konsep kunci yang
diterapkan dalam CNN adalah penggunaan lapisan konvolusi untuk
mendeteksi fitur visual dalam gambar, yang mirip dengan cara neuron-neuron di
korteks visual merespons rangsangan visual seperti garis dan tepi dengan
orientasi tertentu. Setiap lapisan konvolusi di CNN bekerja untuk mendeteksi
fitur visual tertentu dalam gambar, seperti tepi, sudut, dan tekstur.
- Neuron Sederhana (Simple Cells):
Pada CNN, lapisan pertama berfungsi untuk mendeteksi fitur-fitur dasar
seperti garis dan tepi, yang merupakan informasi visual paling sederhana.
Ini mirip dengan neuron sederhana yang ditemukan oleh Hubel dan
Wiesel, yang merespons garis dengan orientasi tertentu.
- Neuron Kompleks (Complex Cells):
Lapisan-lapisan selanjutnya di CNN bekerja untuk mendeteksi pola yang
lebih kompleks, seperti tekstur atau bentuk yang lebih rumit. Ini
mengingatkan pada neuron kompleks yang ditemukan oleh Hubel dan
Wiesel, yang merespons rangsangan lebih rumit seperti pergerakan atau
bentuk yang lebih kompleks.
b. Kolom
Kortikal dan Organisasi Lapisan CNN
Penemuan Hubel dan Wiesel tentang
kolom kortikal yang mengorganisir neuron-neuron untuk mendeteksi jenis
fitur visual tertentu dapat dilihat sebagai inspirasi bagi arsitektur lapisan
konvolusi dalam CNN. Di CNN, setiap filter atau kernel dalam lapisan
konvolusi bekerja untuk mendeteksi fitur visual tertentu, dan beberapa filter
ini berkolaborasi untuk mendeteksi fitur yang lebih kompleks. Hal ini mirip
dengan bagaimana neuron-neuron di dalam kolom kortikal bekerja sama
untuk mengenali pola visual.
c. Hierarki
Pemrosesan Visual
Hubel dan Wiesel juga menunjukkan
bahwa pemrosesan visual di otak manusia bersifat hierarkis—dimulai
dengan deteksi fitur sederhana seperti garis dan tepi, dan berkembang ke objek
yang lebih kompleks. CNN mengikuti prinsip yang sama: lapisan-lapisan awal
mendeteksi fitur visual dasar, sementara lapisan-lapisan selanjutnya
menggabungkan informasi ini untuk mengenali objek yang lebih kompleks, seperti
wajah atau kendaraan.
Perbedaan CNN dengan Jaringan Syaraf Tiruan Tradisional
Salah satu kekuatan utama dari CNN
adalah kemampuannya untuk melakukan pemrosesan spasial dalam gambar
dengan cara yang mirip dengan pemrosesan visual di otak. Dengan menggunakan
lapisan konvolusi, CNN dapat mendeteksi dan mengenali pola lokal dalam gambar
tanpa perlu mempelajari seluruh gambar secara menyeluruh dari awal. Ini
memungkinkan CNN untuk bekerja lebih efisien, terutama dalam aplikasi
pengolahan gambar yang besar dan kompleks.
Penelitian Hubel dan Wiesel yang mengungkapkan cara kerja korteks visual dalam pemrosesan informasi visual menjadi dasar penting bagi pengembangan Convolutional Neural Networks (CNN). Penemuan mereka tentang neuron yang merespons fitur visual tertentu, seperti orientasi garis dan tepi, menginspirasi arsitektur CNN yang menggunakan lapisan konvolusi untuk mendeteksi fitur visual secara bertahap dan hierarkis. Dengan cara ini, CNN meniru cara otak manusia dalam mengenali dan memproses informasi visual, dan telah menjadi salah satu alat yang sangat kuat dalam bidang pembelajaran mesin dan pengolahan gambar. Dengan mengamati sekitar kita, ide-ide dengan dampak besar di bidang AI bisa kita temukan. -Elly-
Referensi:
Hubel, D. H., & Wiesel, T. N. (1959). Receptive fields of single neurones in the cat’s striate cortex. The Journal of Physiology, 148(3), 574. https://doi.org/10.1113/JPHYSIOL.1959.SP006308