Mengenal Kecerdasan Visi Komputer dalam Teknologi PUNA (Pesawat Udara Nir Awak)
Surabaya, 17 Januari 2026 — Dalam
rangka memperingati Dies Natalis Ke-1 Program Studi S-1 Kecerdasan Artifisial
Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prodi S-1 Kecerdasan Artifisial menyelenggarakan
kegiatan ilmiah yang menghadirkan pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN). Narasumber utama dalam kegiatan
ini adalah Ibu Dewi Habsari Budiarti, Ph.D. mengangkat tema sebuah topik
strategis, “Kecerdasan Visi Komputer dalam Teknologi PUNA (Pesawat Udara Nir
Awak)”. Beliau memaparkan perkembangan
dan pemanfaatan PUNA, yang juga dikenal dengan istilah drone, UAV (Unmanned
Aerial Vehicle), atau UAS (Unmanned Aerial System). Dalam paparannya
dijelaskan bahwa PUNA merupakan pesawat yang pengendalinya tidak berada di
dalam pesawat, melainkan dikendalikan dari jarak jauh atau bahkan dapat
beroperasi secara otonom.
Sejarah Militer PUNA hingga Teknologi Modern
Secara historis, konsep pesawat
tanpa awak telah dikenal sejak era Perang Dunia II, seperti pesawat kamikaze
Jepang yang masih melibatkan pilot di dalamnya. Perkembangan signifikan PUNA
tanpa awak mulai terlihat pada Perang Teluk pertama, ketika UAV digunakan untuk
misi pengintaian, pencarian target rudal, serta pemantauan area pendaratan
pasukan amfibi. Sejak saat itu, teknologi UAV berkembang pesat dan kini
dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan sipil, industri, hingga riset
ilmiah.
Evolusi Kendali Terbang dan Kecerdasan Buatan
Dalam presentasinya, narasumber menjelaskan evolusi PUNA
dari sisi kendali terbang, yang meliputi:
- Remote
Controlled (RC), di mana pesawat sepenuhnya dikendalikan oleh
operator dari jarak jauh.
- Autopilot,
yang memungkinkan pesawat mempertahankan sikap dan ketinggian terbang
secara otomatis menggunakan sensor.
- Autonomous,
yaitu pesawat yang mampu menyelesaikan misi dengan intervensi manusia yang
sangat minimal.
Indonesia pernah mempunyai
Pesawat Udara Nir Awak bernama “Sriti” yang dikembangkan oleh BPPT (Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi) pada tahun 2012 yang saat ini bergabung
dengan balai penelitian lain menjadi BRIN.
Peran Strategis Visi Komputer (Computer Vision)
pada PUNA
Kecerdasan Visi Komputer menjadi
salah satu komponen kunci dalam teknologi PUNA. Computer Vision
memungkinkan sistem AI (Artificial Intelligence) untuk
menginterpretasikan dan menganalisis informasi visual dari citra maupun video.
Pada teknologi PUNA, penerapan Visi Komputer terbagi ke dalam dua aspek utama,
yaitu payload dan navigasi. Pengolahan data payload (data utama
atau bermuatan informasi), peningkatan kemampuan sensor, sistem navigasi,
hingga pengambilan keputusan secara mandiri. Pada payload, Computer
Vision digunakan untuk object detection (pengenalan obyek),
object tracking, pemetaan wilayah, monitoring lingkungan, hingga photogrammetry
atau teknik pengukuran dan pemetaan objek atau permukaan bumi menggunakan
foto atau citra. Sementara pada aspek navigasi, teknologi ini mendukung obstacle
avoidance (kemampuan sistem atau mesin untuk mendeteksi, mengenali, dan
menghindari rintangan/hambatan secara otomatis), penentuan posisi dan lintasan
terbang, serta integrasi dengan teknologi seperti Visual Inertial Odometry
(VIO) merupaan teknik untuk memperkirakan posisi dan pergerakan (odometri)
suatu sistem secara real-time dengan menggabungkan data visual dari
kamera dan data inersia dari sensor IMU (Inertial Measurement Unit) dan
LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk pemetaan 3D dan navigasi
presisi, termasuk pada lingkungan indoor dan precision agriculture (pertanian
tepat sasaran/ presisi).
Ibu Dewi juga memaparkan berbagai
implementasi nyata penggunaan Computer Vision pada PUNA yang telah
dilakukan di BRIN, antara lain untuk membantu petani dalam menyemprot pestisida
walaupun masih menggunakan RC (Remote Controlled) dan akan sangat bagus
bisa berkembang menjadi autonomus. Selain itu, Visi Komputer juga dapat
menghitung pohon pinus/ kelapa sawit, pemantuan gunung berapi serta identifikasi
pengumpulan data di area bencana. Pemanfaatan ini menunjukkan bahwa teknologi
AI dan PUNA tidak hanya berdampak pada efisiensi, tetapi juga berkontribusi
langsung pada keamanan, mitigasi bencana, dan kepentingan nasional seperti airspace
integration untuk smart city.
Inspirasi bagi Masyarakat dan Sivitas Akademika S-1
Kecerdasan Artifisial UNESA
Kegiatan ilmiah pada Dies Natalis
ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa, dosen, pemerintah daerah dan
masyarakat. Pada sesi tanya jawab, peserta tertarik pada perkembangan teknologi
hardware maupun software pada pengenalan obyek dan vegetasi. Sekertaris
Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya menyampaikan keterbukaan
kolaborasi khususnya di bidang kecerdasan artifisial dapat diterapkan secara
nyata dalam teknologi strategis seperti PUNA untuk automasi pengenalan
keanekaragaman hayati pada wilayah mangrove Kota Surabaya. Ibu Dewi memberikan
masukan terkait pemilihan jenis drone sesuai kebutuhan pengamatan, untuk
kegiatan monitoring tumbuhan pada area tertentu, disarankan menggunakan drone
tipe fixed-wing karena mampu menjangkau wilayah yang luas dan memiliki
durasi terbang lebih lama. Sementara itu, untuk pengamatan hewan, penggunaan
drone tipe quadcopter (quad rotor) lebih direkomendasikan karena
memiliki kemampuan manuver yang lebih stabil, meskipun pada kondisi tertentu
drone tipe fixed-wing dengan VTOL (Vertical Take-Off and Landing)
masih dapat digunakan. Melalui kegiatan ini, Prodi S-1 Kecerdasan Artifisial UNESA
menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan keilmuan berbasis inovasi,
riset, dan kolaborasi dengan lembaga nasional seperti BRIN dan regional
pemerintah daerah sejalan dengan visi UNESA sebagai universitas unggul dan
adaptif terhadap perkembangan teknologi global melalui program penelitian dan
pembelajaran berbasis proyek.